Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sajak

Puisi Yang Sederhana

Puisi selalu sederhana Yang rumit itu rindunya; boleh tidak, berbalas tidak. Puisi selalu sederhana Yang pelik adalah cintanya; kepada siapa, berbalas tidak. Ah, kadang rindu dan cinta pun sederhana rindu ya rindu saja, cinta ya cinta saja. Sederhana. Tapi; Itu buta namanya.

Naif

Pada sebuah rasa Yang tetiba menyeruak kembali, seketika aku sesak Pada rasa yang berujung tanya (?) Sempat terhenti pada koma(,) Demi nafas yang mengambil jeda Tapi kabarmu hadirkan rasa Yang tak kutau harus bagaimana Agaknya hatiku mulai panik               Dengan semua memori serupa manik-manik Riuh rendah pendarnya berbisik Bahkan sebelum aku menanam titik (.) 150318

Angkuh

Ialah masa Yang acuh pada luka Pun abai pada bahgia 03/ 11

Martabak Semalam

Dingin kaku, agak layu Dan sedikit bau Mungkin dicicipi hantu/ Macam hatimu itu Yang kau biarkan menunggu/

Apa Yang Harus Kutulis Pagi Ini

Apa yang harus kutulis pagi ini Tuan? Jalan macet sepanjang perjalanan menuju sekolah, Murid murid yang selalu bertanya tentang apa saja, Atau deretan rumah pinggir kali yang selalu kulewati sepulang sekolah? Setidaknya beritahu aku, Seketika akan kukabarkan semuanya padamu. Maka sedikitnya beritahu aku. Kabarmu. 11/08/17

Kehilangan

Mengapa kehilangan selalu luka Padahal ia menyembuhkan di saat yang sama(?) Mengapa kehilangan senantiasa duka Padahal ia bahagia di waktu yang sama(?) Mengapa pula kehilangan selalu tangis Padahal ia tawa pada detik yang sama(?) Duhai, tak bisakah kita mempunyai hati dua. Agar duka dan bahgia berdegup seirama. 7/8/17

Perayaan Melepas Rindu (2)

Reuni. Adalah sebuah perayaan melepas rindu. Mengistirahatkannya dengan bertemu. Kau sendiri yang tau seberapa lama ia menunggu. Sampai waktu tak lagi malu-malu. Bagaimana kabarmu? Tanyamu. Maka senyum adalah jawabku. Sebab rindu telah menjelma kupu-kupu. Yang bermain indah di matamu. 040717

Tanda

Tanda. Binar mata/ Rona pipi/ Rekahan senyum/ Degup jantung(?) Mana di antaranya Yang paling Mengisyaratkan adanya Aku jatuh hati(?) 200517

Safar.

Safar. 9Itu rumahmu. Kau kenali setiap Alas ubinnya, retak dindingnya Decit pintunya,  dan lagi Temaram lampunya Kau mungkin berjalan Menuju entah, jauh. Kelak pulanglah, karna ia dekat. Rumahmu itu. 170517

Maka Hujanlah!

Maka Hujanlah! Di harimu yang terik Masalah sungguh pelik Dan pikirmu kian panik Maka hujanlah, di hatimu. Di benakmu yang peluh Sibuk menghapus keluh Bahkan terbesit mengaduh   Maka hujanlah, di hatimu. Ijinkan; rintiknya membasahi yang semula kering nyanyiannya menemani yang semula sepi Untuk Di, Selamat Hari Puisi Nasional. 280417.

Tanpa Lampu

Akhir-akhir ini        sering mati lampu Kau tahu? Dua hari lalu Di pagi hari, lalu Kemarin di siang bolong, lalu Senja ini. Apa pula maksud Petugas pln itu? Memenjarakan aku Di tengah senja yang gulita Tanpa lampu (tanpamu). Fy. 230417

Bagaimana

Bagaimana Aku sudah lupa Bagaimana menikmati puisi Menyeduhnya dengan angan Atau dicelupkan dalam luka? Melupan –pintamu Bagaimana rasanya? Jika pada tiap bait Aku hanya mengecap satu rasa; Kamu.  Fy -210417

Puisiku Telah Mati

Gambar
Puisiku telah mati Bukan tersebab belati Tapi kata hati Mengisyaratkan untuk berhenti Lalu aku harus apa Menguburnya saja Bersama serangkaian ingatan Yang kini bernama kenangan Fy. 030417

Kalah.

Gambar
Dulu kita terbiasa duduk, melahap barisan kata yang bercerita ditemani dua cangkir teh. Setelahnya, kita selalu sibuk melempar tanya -masih soal kata. Lalu, kita tidak pernah menemukan 'apa yang lebih menyenangkan' dari itu.   Tapi lihatlah kini. Kita -kau dan aku- sama-sama dikalahkan oleh dia yang kau bilang bernama; waktu.

Selamat Pagi.

Selamat pagi, lemari. Bagaimana bisa sepagi ini kau sudah berdiri tegak menjaga semua pakaianku tetap tenang? Bahkan matahari masih malu-malu di luar sana. Hai sapu, pagi ini kita akan bekerja seperti biasanya bukan? Membersihkan rumah dan halaman sembari bercerita. Tentang apa saja. Kau tahu sapu, dongeng pangeran yang kau kisahkan kemarin membuatku mimpi indah semalam. Baiklah lampu, kau bisa istirahat sekarang. Terima kasih telah menemani kami semua semalaman. Duhai, hidupku benar-benar bahagia bersama kalian.

Ingar dan Sepi

Gambar
Wahai ingar, maukah kau tinggal bersamaku lebih lama? Aku tak mau bertemu sepi yang selalu menghapiri setelah kau pergi! "Tenanglah, bukankah bersama sepi kau akan semakin mengingatku?" Aku tau, tapi itu membuatku lebih merindukanmu!

Bersembunyi Mengukir Pelangi

Bersembunyi Mengukir Pelangi. Aku besembunyi, di balik sajak-sajak cinta tentangmu Aku besembunyi, di tengah-tengah decak kagum akan indahmu Aku bersembunyi, di sela-sela doa untuk kebaikanmu Lelahkah aku? Tidak. Karena menunggumu serupa mengukir pelangi di atas waktu yang kumiliki. Sampai kapan? Entah. Yang pasti, aku masih ingin mengukir lebih banyak pelangi.

Melupakanmu.

Melupakanmu.             Melupakanmu.                  Tidak saat aku mendengar namamu, aku menoleh. Ada harap dalam degup, 'kau kah?'. Pun saat kudapati potongan namamu pada deret kata aku tertegun sejenak, 'kau kah?'. Getir senyumku menjawab "Itu adalah jejak semu milikmu" Melupakanmu. Bukan ketika dalam diam aku memungut remah jiwamu yang tertinggal. Untuk kemudian kudekap dalam mimpi-mimpi yang buta akan nyata. Helaan nafasku berbisik menyadarkan bahwa aku bersama bayang piasmu. Melupakanmu. Belum karena acap kali dia datang, terlihat serupa dirimu. Kali ini aku tersadar dari kerling matanya yang meluruskan lengkung di bibir. Bukan kerling matamu yang mencipta rona di pipi.                             Tapi...

Aku dan Bayangmu.

Aku dan Bayangmu. Aku dan bayangmu. Membentang luas padang ilalang di selanya. Tersembunyi semak gelisahku. Mengakar jalar, demi membungkus bayangmu. Di sana. Aku dan bayangmu. Dalam waktu yang kian tersengal, usai menebas belukar yang mulai merindu. Bayangmu kian beranjak berlari-lari dengan nakal. Aku dan bayangmu. Duhai, kini tiada lagi padang, semak, juga belukar. Cintaku terseok mendekatimu. Sayang, matahari lebih dulu merenggut paksa bayangmu bak hendak berkelakar. Fairus, 23022015.

Waktu

Adakah yang salah, ketika telur merpati retak dan seekor bayi merpati mencicit di hari pertamanya melihat dunia? Tidak. Adakah yang salah, ketika bulu-bulunya mulai tumbuh, si bayi tertatih mengepakkan sayap demi melakukan tarian indah di panggung langit? Tidak. Adakah yang salah, ketika sayap putihnya terbentang anggun menggapai awan seolah merayunya agar senantiasa tenang? Tidak. Mencari kesalahan membuat kita lupa. Bahwa waktulah juru nilai terbaik. Fy. 4 Muharram 1436