Postingan

Kudapati Indonesiaku di Johor Bahru

“Cublak-cublak suweng Suwenge teng gelenter Mambu ketundhungng gudel Tak gento lela lelo Sapa gelem ndelek ake Sir, sirpong dele bodong Sir, sirpong dele bodong” Rasa-rasanya baru kemarin saya menginjakkan kaki di Kuala Lumpur International Airport dan melanjutkan perjalanan ke Johor Bahru Malaysia menggunakan bus. Tapi kenapa sekarang saya seperti berada di Indonesia lagi? Tepatnya di Indonesia era 90 akhir sampai awal tahun 2000-an. Dimana anak-anak kecil berlarian memainkan gobak sodor, dimana tawa-tawa tertahan disela-sela permaina jumprit sisngit, atau gelak tawa renyah diujung permainan kontak pos. Hei, ini benar Johor bahru Malaysia bukan?! Ya, saya sedang berada di Johor Bahru untuk melaksanakan Praktek Kerja Lapangan Integratif, kewajiban sebagai mahasiswa semester akhir sebelum tenggelam dalam lautan skripsi(?). Tepatnya di Sekolah Indonesia Johor Bahru. Sebuah sekolah filial milik pemerintah Indonesia di Johor Bahru. Mendapat amanah untuk mengabdi di sekol...

Kalah.

Gambar
Dulu kita terbiasa duduk, melahap barisan kata yang bercerita ditemani dua cangkir teh. Setelahnya, kita selalu sibuk melempar tanya -masih soal kata. Lalu, kita tidak pernah menemukan 'apa yang lebih menyenangkan' dari itu.   Tapi lihatlah kini. Kita -kau dan aku- sama-sama dikalahkan oleh dia yang kau bilang bernama; waktu.

Selamat Pagi.

Selamat pagi, lemari. Bagaimana bisa sepagi ini kau sudah berdiri tegak menjaga semua pakaianku tetap tenang? Bahkan matahari masih malu-malu di luar sana. Hai sapu, pagi ini kita akan bekerja seperti biasanya bukan? Membersihkan rumah dan halaman sembari bercerita. Tentang apa saja. Kau tahu sapu, dongeng pangeran yang kau kisahkan kemarin membuatku mimpi indah semalam. Baiklah lampu, kau bisa istirahat sekarang. Terima kasih telah menemani kami semua semalaman. Duhai, hidupku benar-benar bahagia bersama kalian.

Ingar dan Sepi

Gambar
Wahai ingar, maukah kau tinggal bersamaku lebih lama? Aku tak mau bertemu sepi yang selalu menghapiri setelah kau pergi! "Tenanglah, bukankah bersama sepi kau akan semakin mengingatku?" Aku tau, tapi itu membuatku lebih merindukanmu!

Bersembunyi Mengukir Pelangi

Bersembunyi Mengukir Pelangi. Aku besembunyi, di balik sajak-sajak cinta tentangmu Aku besembunyi, di tengah-tengah decak kagum akan indahmu Aku bersembunyi, di sela-sela doa untuk kebaikanmu Lelahkah aku? Tidak. Karena menunggumu serupa mengukir pelangi di atas waktu yang kumiliki. Sampai kapan? Entah. Yang pasti, aku masih ingin mengukir lebih banyak pelangi.

Melupakanmu.

Melupakanmu.             Melupakanmu.                  Tidak saat aku mendengar namamu, aku menoleh. Ada harap dalam degup, 'kau kah?'. Pun saat kudapati potongan namamu pada deret kata aku tertegun sejenak, 'kau kah?'. Getir senyumku menjawab "Itu adalah jejak semu milikmu" Melupakanmu. Bukan ketika dalam diam aku memungut remah jiwamu yang tertinggal. Untuk kemudian kudekap dalam mimpi-mimpi yang buta akan nyata. Helaan nafasku berbisik menyadarkan bahwa aku bersama bayang piasmu. Melupakanmu. Belum karena acap kali dia datang, terlihat serupa dirimu. Kali ini aku tersadar dari kerling matanya yang meluruskan lengkung di bibir. Bukan kerling matamu yang mencipta rona di pipi.                             Tapi...

Serumpun Bunga Desember.

Serumpun Bunga Desember Elok nian serumpun bunga desember itu Yang tumbuh di bawah jendela tanpa lampu Di sela-sela mawar layu Menjadi satu yang indah di matamu Apa kau tahu? Bahwa baginya lagu sendu Yang tak selesai dalam hitung bulan tuju Demi kebahagiaan yang menunggu Tapi ingat, ini hanya soal waktu Besok, seiring rintik hujan berlalu Keindahannya serupa pilu Yang membuatmu berdiri terpaku Fairus Zahidah 22 Safar 1436 Terucap syukur yang teramat dalam kepada Sang Mahainspirasi yang telah memberi sedikit curah inspirasi hingga karya ini menjadi juara I dalam lomba menulis puisi se-Jatim yang diadakan oleh DPD IMM Jawa Timur. Saya yang masih merangkak ini sangat membutuhkan uluran ilmu dan masukan dari pembaca sekalian. Enjoy the poem! :)